Commons Sight – Seiring bertambahnya usia, perubahan daya ingat sering kali dianggap wajar. Banyak orang mulai lupa menaruh barang atau kesulitan mengingat detail kecil. Namun, kondisi ini berbeda dengan demensia. Pada penuaan normal, seseorang masih mampu menjalani aktivitas harian tanpa hambatan berarti. Sebaliknya, demensia muncul ketika gangguan kognitif mulai memengaruhi fungsi hidup sehari-hari. Misalnya, seseorang yang sebelumnya mandiri tiba-tiba kesulitan menyusun rutinitas atau tersesat di lingkungan yang sangat familiar. Oleh karena itu, memahami perbedaannya menjadi langkah awal yang krusial. Dengan mengenali batas antara proses alami dan gangguan medis, keluarga dapat lebih waspada tanpa panik berlebihan. Kesadaran ini penting karena deteksi dini sering kali menentukan kualitas hidup penderita di masa depan.
Gangguan Keseimbangan dan Cara Berjalan
Salah satu perubahan fisik yang sering luput diperhatikan adalah gangguan keseimbangan. Padahal, berjalan bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan proses kompleks yang melibatkan otak. Ketika otak mulai mengalami gangguan, koordinasi tubuh pun ikut terdampak. Akibatnya, penderita demensia bisa terlihat lebih sering terhuyung, berjalan melambat, atau mudah terjatuh. Meski kondisi serupa juga dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti artritis, perubahan ini tetap perlu dicermati. Terlebih jika gangguan berjalan muncul bersamaan dengan perubahan kognitif. Dengan demikian, ketika lansia mulai tampak tidak stabil saat berjalan, pemeriksaan medis menjadi langkah bijak untuk memastikan penyebabnya.
“Baca Juga : Psikologi Nafsu Makan: Mengapa Nafsu Makan Mudah Tersulut Tanpa Disadari“
Perubahan Postur dan Gerakan Tubuh
Selain keseimbangan, postur tubuh juga dapat berubah secara perlahan. Beberapa penderita demensia terlihat membungkuk, menyeret kaki, atau bergerak lebih kaku dari sebelumnya. Kondisi ini kerap ditemukan pada demensia badan Lewy dan Parkinson. Awalnya, perubahan tersebut tampak sepele dan sering dikira akibat kelelahan atau usia. Namun, seiring waktu, gerakan tubuh menjadi semakin terbatas. Karena itu, keluarga perlu memperhatikan perubahan kecil dalam cara berdiri atau berjalan. Jika perubahan berlangsung konsisten dan disertai gejala lain, evaluasi medis sebaiknya segera dilakukan. Langkah ini membantu memastikan diagnosis yang tepat dan penanganan lebih dini.
Penurunan Indera Perasa dan Penciuman
Perubahan indera perasa dan penciuman juga bisa menjadi sinyal peringatan. Seseorang mungkin tidak lagi menyadari bau menyengat atau rasa makanan berubah tanpa sebab jelas. Kondisi ini sering kali disadari lebih dulu oleh orang terdekat. Misalnya, anggota keluarga mencium bau terbakar sementara penderita tidak merasakannya. Meski gangguan penciuman bisa disebabkan oleh infeksi atau masalah sinus, perubahan yang tidak dapat dijelaskan tetap perlu diwaspadai. Dalam konteks demensia, gejala ini sering dikaitkan dengan demensia badan Lewy. Oleh sebab itu, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan ketika perubahan ini muncul secara tiba-tiba.
“Baca Juga : Cara Menangkal Godaan Junk Food Saat Diet Tanpa Stres Berlebihan“
Kesulitan Menelan dan Masalah Pencernaan
Perubahan fisik lain yang cukup berisiko adalah kesulitan menelan. Pada penderita demensia, koordinasi otot mulut dan tenggorokan dapat terganggu. Akibatnya, makanan atau minuman bisa masuk ke saluran pernapasan. Kondisi ini tidak hanya membuat tidak nyaman, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi paru-paru. Selain itu, proses makan menjadi lebih lambat dan melelahkan. Jika gejala ini terus berulang, keluarga perlu memberi perhatian ekstra. Penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Dengan pengawasan yang tepat, risiko kesehatan dapat ditekan secara signifikan.
Perubahan Pola Tidur dan Kontrol Kandung Kemih
Perubahan tidur sering kali menjadi tanda yang muncul lebih awal. Penderita mungkin banyak bergerak, berbicara, atau berteriak saat tidur. Kondisi ini dikenal sebagai gangguan perilaku tidur REM dan sering berkaitan dengan demensia tertentu. Selain itu, masalah kontrol kandung kemih juga dapat muncul. Kesulitan menahan buang air kecil terjadi karena saraf yang mengatur fungsi tersebut mengalami penurunan. Meski gejala ini terasa sensitif untuk dibicarakan, keterbukaan sangat diperlukan. Dengan melaporkan perubahan ini kepada tenaga medis, keluarga dapat membantu mempercepat proses diagnosis dan perawatan yang lebih tepat.