Commons Sight – Kehadiran merek mobil China di Indonesia semakin mudah ditemukan dalam beberapa tahun terakhir. Beragam model kendaraan listrik, hybrid, hingga SUV modern mulai mengisi jalan raya dan ruang pamer otomotif. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mobil China di Indonesia bukan lagi sekadar pilihan alternatif bagi konsumen. Selain menawarkan teknologi baru, sejumlah merek juga berani menghadirkan fitur lengkap dengan harga yang kompetitif. Namun, muncul pertanyaan menarik: seberapa kuat sebenarnya penjualan merek-merek tersebut di negara asalnya? Data September 2026 memberikan gambaran yang cukup jelas. Pasar kendaraan energi baru atau new energy vehicle di China berkembang sangat kompetitif. Meski persaingan semakin ketat, BYD masih mampu mempertahankan posisi teratas. Sementara itu, sejumlah pemain lain seperti Geely Galaxy, Leapmotor, Xiaomi, Nio, dan Zeekr terus memperlihatkan pertumbuhan yang menarik untuk diperhatikan.
BYD Masih Menjadi Raja Pasar
BYD kembali menunjukkan kekuatannya sebagai salah satu pemain terbesar kendaraan energi baru di China. Sepanjang September 2026, perusahaan tersebut mencatat penjualan global sebanyak 456.713 mobil penumpang. Jumlah itu terdiri dari 273.143 kendaraan listrik berbasis baterai atau BEV dan 183.570 kendaraan plug-in hybrid atau PHEV. Menariknya, sekitar 180.700 unit dikirim ke berbagai pasar di luar China. Artinya, kekuatan BYD tidak hanya bertumpu pada konsumen domestik. Selain itu, performa tersebut memperlihatkan kemampuan perusahaan menjaga permintaan ketika persaingan kendaraan listrik semakin agresif. Secara kumulatif, BYD telah menjual 3.078.490 mobil sepanjang Januari hingga September 2026. Angka tersebut menempatkan BYD jauh di depan pesaingnya. Karena itu, ketika konsumen Indonesia melihat semakin banyak produk BYD di jalan, fenomena tersebut sebenarnya merupakan bagian dari ekspansi global yang jauh lebih besar.
Baca Juga : Toyota Veloz Hybrid Buka Peluang Ekspor, TMMIN Utamakan Indonesia
Geely Galaxy dan Leapmotor Mulai Membayangi
Di bawah BYD, persaingan mulai terasa lebih menarik karena beberapa merek menunjukkan pertumbuhan kuat. Geely Galaxy menempati posisi kedua dengan penjualan 130.479 unit pada September 2026. Sementara itu, Leapmotor berada di peringkat ketiga setelah mencatat 105.656 unit. Pencapaian Leapmotor menjadi perhatian khusus karena penjualannya meningkat 59 persen dan untuk pertama kalinya menembus angka 100.000 unit dalam daftar tersebut. Bahkan, sekitar 27.000 kendaraan Leapmotor terjual di pasar luar China. Hingga September, perusahaan tersebut telah mengirimkan 665.539 kendaraan. Jumlah itu setara dengan 66,7 persen dari target satu juta unit sepanjang 2026. Dengan perkembangan tersebut, persaingan tidak lagi hanya mempertemukan merek besar dengan pemain lama. Sebaliknya, produsen yang lebih muda juga mulai menunjukkan kemampuan membangun pasar melalui strategi produk, harga, teknologi, serta ekspansi internasional yang semakin agresif.
Xiaomi Mulai Menunjukkan Taring
Nama Xiaomi juga semakin menarik perhatian dalam industri otomotif China. Perusahaan teknologi tersebut tidak hanya mengandalkan popularitas perangkat elektronik, tetapi mulai membangun posisi melalui kendaraan listrik. Pada September 2026, Xiaomi Auto mencatat penjualan sekitar 40.000 unit. Secara kumulatif sejak Januari hingga September, penjualannya mencapai sekitar 269.000 kendaraan. Pencapaian tersebut berarti Xiaomi telah memenuhi sekitar 48,9 persen dari target 550.000 unit untuk tahun ini. Meski masih memiliki pekerjaan besar untuk mencapai sasaran tahunan, pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa strategi Xiaomi mulai mendapat respons dari pasar. Selain itu, kekuatan ekosistem teknologi menjadi modal penting karena konsumen semakin tertarik pada kendaraan yang terhubung dengan perangkat digital. Dengan demikian, persaingan otomotif China kini tidak hanya berkaitan dengan mesin dan desain. Faktor perangkat lunak, konektivitas, pengalaman pengguna, serta integrasi teknologi juga semakin menentukan pilihan konsumen.
Baca Juga : Geely Buka Peluang Bawa Lynk & Co ke Pasar Indonesia
Changan, Xpeng, dan Huawei Ikut Bersaing
Persaingan pasar kendaraan energi baru China semakin ramai ketika melihat posisi merek lain. Changan Nevo mencatat penjualan 45.607 unit pada September 2026. Kemudian, Xpeng mengikuti dengan 41.256 unit. Sementara itu, ekosistem Harmony Intelligent Mobility Alliance atau HIMA yang berada di bawah jaringan Huawei membukukan 37.490 unit. Angka HIMA tersebut merupakan gabungan beberapa merek, termasuk Aito, Luxeed, Stelato, Maextro, dan Shangjie. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsumen China memiliki semakin banyak pilihan kendaraan dengan pendekatan teknologi berbeda. Selain itu, model bisnis berbasis ekosistem membuat persaingan menjadi lebih kompleks. Produsen tidak sekadar menjual mobil, tetapi juga berusaha membangun pengalaman digital yang terhubung dengan kehidupan pengguna. Karena itu, perkembangan merek-merek tersebut patut diperhatikan oleh pasar Indonesia. Semakin kuat performanya di China, semakin besar pula peluang mereka memperluas jaringan dan memperkenalkan produk baru ke pasar internasional.
Nio dan Zeekr Menawarkan Persaingan Berbeda
Nio juga masih menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam persaingan kendaraan energi baru China. Pada September 2026, Nio dan sejumlah merek dalam ekosistemnya mencatat total penjualan 37.408 unit. Angka tersebut terdiri dari Nio sebanyak 21.318 unit, Onvo 8.763 unit, serta Firefly 7.327 unit. Tidak jauh berbeda, Zeekr membukukan penjualan 37.216 unit. Menariknya, penjualan Zeekr melonjak 103,85 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa segmen premium kendaraan listrik China juga mengalami perkembangan pesat. Di sisi lain, strategi setiap merek mulai terlihat semakin berbeda. Ada yang mengutamakan teknologi, ada pula yang mengejar desain, kenyamanan, performa, atau pengalaman premium. Karena itu, konsumen Indonesia kini tidak hanya mendapatkan lebih banyak pilihan merek China. Mereka juga berhadapan dengan variasi produk yang semakin luas, sehingga persaingan di segmen kendaraan listrik menjadi lebih dinamis.
Pasar China Menjadi Cermin Ekspansi Global
Ramainya mobil China di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri otomotif di negara asalnya. Data September 2026 memperlihatkan bahwa produsen China memiliki pasar domestik yang sangat kompetitif sekaligus menjadi tempat penting untuk menguji teknologi dan strategi baru. Setelah mendapatkan pijakan kuat di dalam negeri, sejumlah perusahaan mulai memperluas penjualan ke berbagai negara. BYD menjadi contoh paling jelas karena sekitar 180.700 unit dari penjualan September dikirim ke pasar luar China. Selain itu, pertumbuhan Leapmotor, Zeekr, Xiaomi, dan merek lainnya menunjukkan bahwa persaingan tersebut semakin luas. Bagi konsumen Indonesia, situasi ini membawa dampak menarik. Pilihan kendaraan baru kemungkinan terus bertambah, sementara persaingan antarmerek dapat mendorong inovasi dan membuat produsen menawarkan fitur yang semakin lengkap. Dengan begitu, perjalanan merek China dari pasar domestik menuju pasar global kini menjadi salah satu cerita paling menarik dalam industri otomotif modern.