Commons Sight – Menutup akhir 2025, Bank Indonesia (BI)mengambil langkah besar dengan menaikkan nilai insentif likuiditas makroprudensial menjadi Rp 423 triliun. Kebijakan ini bukan sekadar angka, melainkan bagian dari strategi BI untuk memperkuat fondasi ekonomi di tengah gejolak global yang masih terasa berat. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa langkah ini sangat penting agar perbankan memiliki ruang lebih luas dalam menyalurkan kredit. Dengan dorongan likuiditas tersebut, ia berharap bank lebih berani menggerakkan pembiayaan untuk sektor-sektor prioritas pemerintah. Dalam suasana yang penuh kehati-hatian, keputusan ini menjadi sinyal bahwa mesin pemulihan ekonomi Indonesia harus semakin dipercepat untuk menyambut tantangan dan peluang pada 2026.
Dorongan bagi Perbankan agar Kredit Lebih Mengalir
Selama 2025, penyaluran kredit perbankan dinilai melambat karena bank masih memegang dana dalam jumlah besar di BI. Perry mengungkapkan, tambahan insentif likuiditas ini sengaja dirancang agar bank bergerak lebih agresif menyalurkan kredit. Kebijakan tersebut membantu mengurangi hambatan internal perbankan dan memberikan insentif langsung bagi yang ingin memperluas pembiayaan. Fokus utamanya adalah sektor-sektor prioritas pemerintah, seperti industri strategis, UMKM, dan pembangunan infrastruktur. Dengan dorongan ini, BI berharap kredit dapat menjadi motor utama untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Para pelaku usaha pun menaruh harapan besar agar bank segera membuka keran pembiayaan lebih cepat.
“Baca Juga : Pertamina Siaga Nataru: Menjaga Energi Tetap Mengalir di Puncak Liburan”
Makroprudensial Longgar jadi Tulang Punggung Kebijakan 2026
Pada 2026, BI telah menyiapkan kebijakan makroprudensial yang lebih longgar untuk memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi. Peningkatan insentif likuiditas menjadi bagian dari strategi besar ini. Perry menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dirancang agar perbankan tidak hanya memegang likuiditas dalam jumlah besar, tetapi menyalurkannya menjadi kredit produktif. Ketika bank lebih aktif memberi pembiayaan, roda ekonomi bergerak lebih cepat. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, kelonggaran makroprudensial juga membantu menjaga stabilitas sistem keuangan. Dengan desain kebijakan yang saling melengkapi, BI ingin memastikan ekonomi Indonesia tetap tegar menghadapi tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan perubahan suku bunga internasional.
Menjaga Penurunan Suku Bunga Kredit Agar Lebih Efektif
Salah satu hambatan terbesar selama 2025 adalah lambatnya penurunan suku bunga kredit meski BI telah menurunkan BI rate lima kali dengan total 125 basis poin. Kondisi tersebut membuat proses pemulihan ekonomi berjalan tidak secepat yang diharapkan. Untuk itu, BI menyiapkan skema khusus bagi bank yang dapat menurunkan suku bunga kredit lebih cepat. Strategi ini diharapkan mendorong perbankan menyesuaikan kebijakan internal mereka, sehingga penurunan suku bunga benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha dan masyarakat. Ketika suku bunga kredit lebih rendah, permintaan pembiayaan cenderung meningkat dan peluang ekspansi usaha menjadi lebih besar. Dengan demikian, daya dorong ekonomi dapat terbangun secara lebih solid.
“Baca Juga : Mencegah Deindustrialisasi: Mengapa Kualitas SDM Menjadi Penentu Masa Depan Indonesia”
Insentif Baru sebagai Pendorong Perbaikan Intermediasi Perbankan
Selama beberapa tahun terakhir, fungsi intermediasi perbankan kerap menjadi sorotan, terutama ketika dana yang parkir di BI melonjak mencapai lebih dari Rp 1.000 triliun. Padahal dana tersebut seharusnya menggerakkan sektor riil melalui kredit. Dengan adanya insentif likuiditas hingga Rp 423 triliun, BI berharap pola ini berubah pada 2026. Bank yang mempercepat penyaluran kredit akan mendapatkan manfaat. Langkah ini menciptakan iklim kompetitif yang memacu bank lain untuk melakukan hal serupa. Pada akhirnya, intermediasi yang lebih sehat dapat memperkuat kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor usaha, terutama UMKM yang selama ini terkendala akses pembiayaan, diharapkan menjadi pihak yang paling merasakan dampak positifnya.
Kesiapan BI Menyongsong Peluang Pertumbuhan Ekonomi Baru
Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan likuiditas ini hanyalah satu bagian dari agenda besar BI menyambut 2026. Ia menekankan bahwa langkah-langkah lanjutan seperti peluncuran instrumen baru akan segera menyusul untuk melengkapi kebijakan stabilitas moneter. Dengan kombinasi kebijakan yang solid, BI ingin memastikan ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil meski dunia sedang menghadapi dinamika besar. Dari sektor keuangan, perbankan, hingga pelaku usaha, semua pihak diharapkan bersinergi memanfaatkan peluang yang muncul. Keputusan BI menambah insentif likuiditas menjadi simbol bahwa negara hadir dan siap mendukung pemulihan ekonomi melalui kebijakan yang tepat sasaran dan berorientasi jangka panjang.