Commons Sight – Child grooming sering dianggap sebagai kejahatan biasa, tetapi dari perspektif psikologi, perilaku ini mencerminkan pola mental dan emosional yang bermasalah pada pelaku. Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan bahwa grooming tidak lahir dari rasa cinta atau perhatian, melainkan dari kebutuhan kontrol yang tidak sehat. Dalam wawancara dengan Kompas.com, dr. Lahargo menegaskan bahwa memahami psikologi pelaku sangat penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan grooming sebagai “kedekatan” atau “niat baik” semata.
Penyebab Seseorang Melakukan Child Grooming
Menurut dr. Lahargo, salah satu faktor utama yang mendorong pelaku grooming adalah kebutuhan untuk mengendalikan orang lain. Pelaku merasa kepuasan saat mampu mengontrol emosi, pikiran, dan keputusan anak. Kontrol ini sering dibangun melalui kedekatan emosional, tanpa ancaman langsung. Pelaku berusaha membuat anak merasa bergantung secara psikologis, sehingga anak merasa sulit untuk menolak atau menjauh dari mereka.
“Baca Juga : Super Flu H3N2 Lebih Mudah Menempel dan Sulit Dilawan Tubuh“
Distorsi Kognitif yang Membenarkan Perilaku Pelaku
Pelaku child grooming sering kali mengalami distorsi berpikir, yang membuat mereka membenarkan tindakan manipulatif mereka. Dalam banyak kasus, mereka meyakini bahwa tindakan mereka bukanlah bentuk kekerasan, melainkan perhatian yang tulus. “Aku menyayangi, bukan menyakiti” atau “Anaknya yang merasa nyaman” adalah narasi yang sering digunakan untuk membenarkan perilaku mereka. Distorsi ini mengaburkan pandangan mereka terhadap kenyataan bahwa mereka telah melakukan kejahatan.
Defisit Empati terhadap Korban
Salah satu ciri lain dari pelaku grooming adalah rendahnya empati terhadap korban. Pelaku kesulitan merasakan penderitaan emosional anak yang mereka targetkan. Fokus utama pelaku lebih pada kebutuhan dan kepuasan dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan dampak negatif yang dirasakan korban. Akibatnya, luka psikologis yang dialami anak sering diabaikan atau dianggap tidak penting oleh pelaku.
“Baca Juga : Superflu Mengintai Akhir 2025, Vaksin Influenza Tetap Jadi Benteng Perlindungan“
Pola Luka yang Tidak Disadari
Dalam beberapa kasus, pelaku grooming mungkin memiliki riwayat sebagai korban di masa lalu. Namun, dr. Lahargo menekankan bahwa pengalaman masa lalu tidak membenarkan perilaku menyakiti orang lain. Luka yang tidak diproses dengan sehat dapat berkembang menjadi pola menyakiti yang diwariskan kepada orang lain. Pola ini menjadi lebih berbahaya karena pelaku tidak menyadari bahwa tindakan mereka melanjutkan siklus kekerasan.
Mengapa Grooming Dilakukan Secara Bertahap
Salah satu ciri khas dari grooming adalah pendekatan yang dilakukan secara bertahap. Pelaku jarang melakukan pelanggaran langsung. Sebaliknya, mereka menggeser batasan secara perlahan agar anak tidak merasa terancam dan tidak sadar bahwa mereka sedang dipengaruhi. Proses ini dirancang untuk mengurangi resistensi korban, membuat mereka merasa nyaman dengan perubahan yang sebenarnya manipulatif.
Pentingnya Memahami Psikologi Pelaku
Memahami psikologi pelaku grooming sangat penting agar masyarakat tidak salah menilai. Grooming bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga masalah relasional dan psikologis. Dr. Lahargo mengingatkan agar masyarakat lebih waspada dengan mengenali tanda-tanda bahaya. Penting bagi kita untuk memahami pola dan motivasi pelaku untuk dapat melindungi anak-anak dari potensi ancaman lebih lanjut.
Fokus Utama pada Perlindungan Korban
Meskipun memahami psikologi pelaku sangat penting, fokus utama tetap harus pada perlindungan korban. Child grooming adalah bentuk kekerasan psikologis yang merusak. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan perlindungan anak harus selalu menjadi prioritas utama. Semakin besar pemahaman masyarakat mengenai perilaku ini, semakin besar pula peluang untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.