Doa Menggema di Media Sosial untuk Almarhum Affan Kurniawan
Commons Sight – Kepergian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dalam tragedi demonstrasi di Jakarta, menyisakan luka mendalam di hati masyarakat. Doa dan ucapan belasungkawa pun mengalir deras, tak hanya di dunia nyata, tapi juga membanjiri dunia maya.
Sejak pagi hari, nama Affan Kurniawan menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Ribuan unggahan muncul, menyuarakan duka, rasa kehilangan, dan harapan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.
Banyak yang menyertakan doa-doa tulus, seperti “Al-Fatihah” atau “Husnul khotimah”, sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Affan. Nama Affan bahkan sempat menjadi trending topic nasional, menunjukkan betapa dalam empati publik terhadap tragedi yang menimpanya.
Salah satu pengguna media sosial menulis dengan haru, “Duka mendalam atas kepergian Affan. Meski tak saling kenal, kami turut kehilangan. Semoga damai di sana.”
Ungkapan lain datang dari netizen yang membagikan video konvoi rekan-rekan ojol mengiringi jenazah Affan menuju tempat peristirahatan terakhir. Mereka mengantarkannya dengan doa dan air mata.
Ada juga yang menyuarakan kritik dengan nada getir, “Selamat jalan Affan. Maaf, negara belum mampu melindungimu.” Kalimat sederhana ini seakan mewakili suara rakyat yang tak ingin tragedi serupa terulang.
Ribuan rekan seprofesi Affan turut mengantar jenazahnya ke pemakaman. Mereka datang dengan atribut ojek online, membentuk iring-iringan panjang yang penuh haru. Tangisan, doa, dan keheningan menyatu dalam konvoi yang melintasi jalanan ibu kota—sebuah simbol solidaritas yang begitu kuat.
Tragedi ini tak hanya menyisakan duka, tetapi juga menyulut semangat baru untuk menuntut keadilan. Banyak suara menyerukan agar kasus ini diusut tuntas. Satu nyawa rakyat dianggap terlalu berharga untuk diabaikan.
Ucapan belasungkawa juga datang dari berbagai tokoh penting. Mereka menyampaikan maaf dan janji untuk menindaklanjuti peristiwa ini dengan serius. Rakyat berharap, kata-kata tersebut tidak berhenti pada retorika belaka.
Affan mungkin bukan seorang tokoh besar, tapi kisah hidup dan kematiannya telah menyentuh nurani banyak orang. Ia menjadi simbol dari jutaan rakyat kecil yang berjuang di tengah kerasnya kota.
Kini, di tengah duka yang mendalam, masyarakat bersatu dalam doa. Bukan hanya untuk Affan, tapi juga untuk harapan—bahwa negeri ini bisa lebih adil, lebih manusiawi, dan lebih berpihak kepada rakyat kecil.
Selamat jalan, Affan Kurniawan. Doa kami akan selalu menyertaimu.