Commons Sight – Kenaikan suku bunga The Fed kembali memberi tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 17 September 2026. Rupiah bergerak melemah ketika pelaku pasar mulai menyesuaikan posisi setelah bank sentral Amerika Serikat mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat. Pada akhir perdagangan, rupiah berada di kisaran Rp17.753 per dolar AS. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa keputusan suku bunga Amerika masih menjadi salah satu faktor penting bagi mata uang negara berkembang. Selain itu, investor juga memperhatikan perkembangan inflasi, arus modal, serta kondisi geopolitik global sebelum menentukan arah investasi berikutnya.
Rupiah Ditutup Melemah 57 Poin
Tekanan terhadap rupiah terlihat cukup jelas menjelang penutupan pasar. Mata uang Indonesia tercatat melemah sekitar 57 poin atau 0,32 persen menjadi Rp17.753 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di sekitar Rp17.696 per dolar AS. Meski pergerakannya tidak terlalu besar secara persentase, perubahan tersebut tetap mendapat perhatian pasar. Pasalnya, pelaku pasar sedang menghadapi perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketika bunga dolar meningkat, aset berbasis dolar dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor. Oleh karena itu, mata uang negara berkembang berpotensi menghadapi tekanan tambahan jika permintaan terhadap dolar meningkat.
JISDOR Bergerak ke Rp17.753 per Dolar AS
Pergerakan serupa terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR yang diterbitkan Bank Indonesia. Data resmi menunjukkan JISDOR berada di Rp17.753 per dolar AS pada 17 September 2026. Sehari sebelumnya, kurs referensi tersebut tercatat Rp17.712 per dolar AS. Dengan demikian, terdapat perubahan sekitar Rp41 dalam satu hari perdagangan. Data ini memberikan gambaran bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya terlihat pada perdagangan pasar spot. Perubahan kurs referensi juga mencerminkan dinamika permintaan dan penawaran valuta asing yang sedang berlangsung di pasar domestik.
The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin
Federal Open Market Committee mengambil keputusan penting dalam pertemuan 15–16 September 2026. Komite tersebut menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen hingga 4,00 persen. Keputusan itu mendapat dukungan bulat dengan hasil pemungutan suara 12–0. The Fed menjelaskan bahwa inflasi masih berada pada tingkat tinggi. Karena itu, kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung proses pengembalian inflasi menuju target 2 persen. Langkah terbaru ini sekaligus menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak 2023, setelah dalam beberapa tahun sebelumnya arah kebijakan lebih banyak bergerak menuju pelonggaran.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Penataan PPPK Berbagai Profesi, Guru Jadi Perhatian
Inflasi Amerika Menjadi Perhatian Pasar
Inflasi tetap menjadi alasan utama di balik perubahan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, The Fed menilai aktivitas ekonomi masih berkembang dengan laju yang solid. Belanja domestik juga tetap bertahan, sedangkan pertumbuhan produktivitas dan investasi modal dinilai kuat. Namun, inflasi masih berada di atas tingkat yang diinginkan bank sentral. Kondisi tersebut membuat ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat tetap terbuka. Bagi pasar keuangan, persoalannya bukan sekadar kenaikan 25 basis poin. Investor juga mencoba membaca seberapa lama tingkat bunga tinggi akan dipertahankan dan bagaimana kebijakan berikutnya akan berkembang.
Mengapa Suku Bunga AS Bisa Memengaruhi Rupiah?
Hubungan antara kenaikan suku bunga The Fed dan rupiah berkaitan erat dengan arus modal global. Ketika imbal hasil aset keuangan Amerika meningkat, sebagian investor dapat melakukan penyesuaian portofolio menuju aset berbasis dolar. Perubahan tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dolar di pasar internasional. Akibatnya, mata uang negara berkembang dapat mengalami tekanan. Namun, hubungan ini tidak selalu berlangsung secara otomatis. Kondisi ekonomi domestik, cadangan devisa, inflasi Indonesia, neraca perdagangan, serta kebijakan Bank Indonesia juga ikut menentukan kekuatan rupiah. Karena itu, pergerakan kurs sebaiknya dilihat melalui kombinasi faktor global dan domestik, bukan hanya melalui satu keputusan bank sentral.
Selisih Suku Bunga Menjadi Faktor Penting
Perbedaan tingkat suku bunga Indonesia dan Amerika Serikat juga menjadi perhatian investor. Berdasarkan informasi Bank Indonesia, BI-Rate berada pada level 5,75 persen per 19 Agustus 2026. Sementara itu, target federal funds rate setelah keputusan September berada pada kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen. Perbedaan tingkat bunga tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan alokasi investasi. Namun, investor tidak hanya membandingkan angka bunga. Mereka juga menghitung risiko nilai tukar, prospek ekonomi, inflasi, serta stabilitas pasar. Dengan demikian, perubahan kecil pada ekspektasi global dapat memengaruhi keputusan investasi dalam waktu relatif cepat.
Ketidakpastian Global Menambah Tekanan Pasar
Selain kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi sentimen investor. The Fed sendiri mengakui bahwa tingkat ketidakpastian masih tinggi, salah satunya akibat perkembangan geopolitik. Situasi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil risiko. Pada saat yang sama, dolar sering menjadi salah satu aset yang diperhatikan ketika volatilitas pasar meningkat. Kombinasi antara suku bunga Amerika yang lebih tinggi dan ketidakpastian global kemudian menciptakan tantangan bagi mata uang negara berkembang. Oleh sebab itu, rupiah dapat bergerak lebih fluktuatif ketika sentimen global berubah dalam waktu singkat.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed Berikutnya
Setelah keputusan September, perhatian investor akan beralih ke pertemuan FOMC berikutnya. Berdasarkan jadwal resmi, The Fed masih memiliki pertemuan pada 27–28 Oktober serta 8–9 Desember 2026. Pasar akan mencermati data inflasi, tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta pernyataan pejabat bank sentral sebelum pertemuan tersebut berlangsung. Setiap perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga dapat memengaruhi dolar dan pasar obligasi. Dampaknya kemudian dapat menjalar ke mata uang lain, termasuk rupiah. Karena itu, volatilitas nilai tukar masih mungkin terjadi selama pasar terus menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika.
Fundamental Domestik Tetap Menjadi Penyangga Rupiah
Meskipun faktor eksternal sedang memberikan tekanan, kondisi domestik tetap memiliki peran besar dalam menentukan arah rupiah. Data Bank Indonesia menunjukkan cadangan devisa Indonesia berada sekitar US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Sementara itu, inflasi IHK tercatat 3,19 persen secara tahunan pada periode yang sama. Indikator tersebut menjadi bagian dari fundamental yang diperhatikan pelaku pasar dalam menilai ketahanan ekonomi Indonesia. Dengan demikian, pelemahan rupiah dalam satu sesi perdagangan belum cukup untuk menggambarkan tren jangka panjang. Pasar masih akan menilai kombinasi kebijakan The Fed, langkah Bank Indonesia, arus modal asing, serta perkembangan ekonomi domestik dalam menentukan arah rupiah berikutnya.