Commons Sight – BI Rate bertahan 5,75 persen menjadi proyeksi utama menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia Agustus 2026. Pertemuan kali ini memiliki arti tersendiri karena menjadi RDG perdana yang dipimpin Destry Damayanti sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI. Di tengah pergerakan rupiah dan ekonomi global yang belum sepenuhnya tenang, keputusan bank sentral akan mendapat perhatian besar dari pelaku pasar. Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menilai BI belum perlu mengubah suku bunga acuan. Menurutnya, menjaga BI Rate pada 5,75 persen menjadi pilihan yang lebih seimbang saat ini. Selain itu, Deposit Facility diproyeksikan tetap 4,75 persen. Sementara itu, Lending Facility diperkirakan bertahan pada 6,50 persen. Sikap tersebut memberi BI ruang untuk mengamati dampak kebijakan sebelumnya sambil tetap menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal.
Kenaikan Bunga Sebelumnya Masih Perlu Waktu Bekerja
Salah satu alasan BI Rate bertahan 5,75 persen adalah dampak kenaikan suku bunga sebelumnya belum sepenuhnya terlihat. Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026. Karena itu, Josua menilai BI perlu memberikan waktu agar kebijakan tersebut bekerja lebih optimal dalam perekonomian. Kenaikan bunga biasanya tidak langsung memengaruhi konsumsi, kredit, investasi, dan nilai tukar. Dampaknya muncul secara bertahap melalui sistem keuangan. Dengan mempertahankan bunga pada Agustus, BI dapat mengamati respons ekonomi tanpa menambah tekanan baru kepada rumah tangga dan dunia usaha. Langkah ini juga penting ketika permintaan domestik mulai menunjukkan moderasi. Bagi masyarakat, suku bunga tinggi dapat terasa melalui cicilan dan biaya kredit. Oleh sebab itu, keputusan menahan bunga menawarkan jalan tengah antara kebutuhan menjaga rupiah dan mempertahankan ruang pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga : Rupiah Melemah ke Rp17.847 per Dolar AS, Pasar Waspad
Inflasi yang Terkendali Mengurangi Tekanan Kenaikan Bunga
Kondisi inflasi menjadi alasan lain bagi BI untuk tidak terburu-buru menaikkan bunga. Pada Juli 2026, Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14 persen. Secara tahunan, inflasi turun menjadi 2,88 persen dari 3,34 persen pada Juni. Sementara itu, inflasi inti tercatat stabil pada 2,76 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Situasi ini menunjukkan tekanan harga domestik masih relatif terkendali. Dengan kondisi tersebut, kenaikan suku bunga tambahan berisiko memberikan tekanan yang tidak perlu terhadap kegiatan ekonomi. Meski demikian, BI tetap harus berhati-hati. Stabilnya inflasi hari ini tidak berarti risiko sudah menghilang. Harga komoditas global dan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor. Pada akhirnya, tekanan tersebut bisa masuk ke harga barang yang dibayar masyarakat. Karena itu, menahan bunga dinilai lebih masuk akal daripada mulai memangkasnya.
Rupiah Tetap Menjadi Pertimbangan Penting Bank Indonesia
Di balik inflasi yang cukup jinak, pergerakan rupiah masih membutuhkan perhatian serius. Mata uang Indonesia sempat berada di sekitar Rp18.000 per dollar AS sebelum kembali menuju kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900. Perbaikan tersebut membantu mengurangi kebutuhan untuk kembali menaikkan BI Rate bertahan 5,75 persen. Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang. Rupiah masih mengalami depresiasi secara tahunan sehingga risiko dari pasar global tetap perlu diperhitungkan. Dalam kondisi seperti ini, BI memiliki pilihan lain selain mengubah suku bunga. Bank sentral dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing dan mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Selain itu, pengelolaan likuiditas dan kebijakan makroprudensial dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan. Strategi tersebut memberi BI ruang untuk melindungi rupiah tanpa terus menaikkan biaya pinjaman. Bagi dunia usaha, stabilitas nilai tukar juga penting karena menentukan biaya impor dan perencanaan investasi.
Baca Juga :Purbaya Sebut Larangan Orang Kaya Beli Pertalite
Risiko Harga Impor Belum Bisa Diabaikan
Meski inflasi domestik terkendali, tekanan dari luar negeri masih menjadi risiko yang harus diawasi. Indeks harga komoditas impor pada Juli 2026 dilaporkan meningkat 12,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, rupiah masih terdepresiasi 10,53 persen secara tahunan. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan biaya barang impor dan bahan baku industri. Jika tekanan berlangsung lama, perusahaan dapat meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen. Karena itu, ruang untuk memangkas suku bunga juga belum terbuka lebar. Bank Indonesia perlu menjaga keseimbangan yang tidak sederhana. Suku bunga terlalu tinggi dapat menekan kredit serta permintaan masyarakat. Sebaliknya, penurunan bunga terlalu cepat berpotensi meningkatkan tekanan terhadap rupiah. Dalam situasi ini, mempertahankan suku bunga memberikan waktu bagi BI untuk membaca arah ekonomi dengan lebih jelas. Kebijakan tersebut juga memungkinkan bank sentral merespons cepat apabila risiko global kembali meningkat.
Defisit Transaksi Berjalan Menjadi Tantangan Baru
Perhatian BI kini tidak hanya tertuju pada inflasi. Keseimbangan eksternal juga menjadi tantangan yang semakin penting. Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan dapat melebar dari 1,09 persen terhadap produk domestik bruto pada kuartal I 2026 menjadi sekitar 3,09 persen pada kuartal II. Secara nominal, nilainya diperkirakan meningkat dari sekitar 4,01 miliar dollar AS menjadi 11,56 miliar dollar AS. Pada kuartal III, defisit diproyeksikan berada di sekitar 10,87 miliar dollar AS atau 3,03 persen PDB. Sementara itu, defisit sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 36,15 miliar dollar AS atau sekitar 2,46 persen PDB. Pelebaran ini dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan dari luar negeri. Akibatnya, perubahan arus modal global menjadi semakin penting bagi Indonesia. Kondisi tersebut memberi alasan tambahan bagi BI untuk menjaga kebijakan moneter tetap hati-hati.
Ujian Awal Destry Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan
RDG Agustus menjadi ujian awal bagi Destry Damayanti dalam memimpin arah kebijakan moneter pada periode yang penuh tantangan. Ia menghadapi situasi ketika inflasi domestik cukup terkendali, tetapi risiko eksternal masih kuat. Rupiah membutuhkan perlindungan, sementara dunia usaha juga membutuhkan kepastian biaya pembiayaan. Karena itu, pilihan mempertahankan BI Rate pada 5,75 persen dapat menjadi titik tengah yang realistis. Kebijakan tersebut memberi waktu bagi kenaikan bunga sebelumnya untuk bekerja. Pada saat bersamaan, BI masih dapat menggunakan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Pasar tentu akan memperhatikan keputusan bunga, tetapi pesan yang disampaikan bank sentral tidak kalah penting. Komunikasi yang jelas dapat membantu menjaga ekspektasi investor dan masyarakat. Bagi Destry, RDG perdana ini bukan sekadar menentukan angka suku bunga. Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan menunjukkan bagaimana BI menjaga kepercayaan ketika ketidakpastian global belum berakhir.