Commons Sight – Ponsel kini menjadi bagian dekat dari kehidupan anak. Namun, durasi penggunaannya mulai mendapat perhatian serius. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi mengungkap bahwa Screen Time Anak Indonesia dapat mencapai 5–7 jam sehari. Staf Khusus Menteri Bidang Pemuda dan Startup Komdigi, Alfreno Kautsar Ramadhan, menyampaikan informasi tersebut dalam Hari Game Indonesia di Jakarta Pusat pada 8 Agustus 2026. Menurut Alfreno, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid memberi perhatian besar pada pengawasan ruang digital. Terutama, pemerintah ingin meningkatkan perlindungan terhadap anak. Angka tersebut menjadi pengingat bagi keluarga bahwa teknologi membawa manfaat sekaligus tantangan. Ponsel memang membantu anak belajar, berkomunikasi, dan mencari hiburan. Namun, penggunaan yang terlalu lama perlu dikelola secara bijak. Karena itu, keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sehari-hari menjadi semakin penting bagi keluarga modern.
Pemerintah Memperkuat Perlindungan Anak di Ruang Digital
Meningkatnya penggunaan internet membuat pemerintah memperkuat kebijakan perlindungan anak. Salah satu langkahnya adalah penerapan PP Tunas atau Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025. Aturan tersebut ditujukan untuk melindungi anak di bawah usia 16 tahun dari berbagai risiko di ruang digital. Namun, tantangannya tidak berhenti pada lamanya waktu menggunakan internet. Anak juga dapat menemukan konten yang tidak sesuai usia atau menggunakan layanan digital tanpa pengawasan memadai. Oleh sebab itu, perlindungan tidak bisa hanya mengandalkan larangan dari orang tua. Platform digital juga memiliki tanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman. Selain itu, keluarga membutuhkan pemahaman mengenai kebiasaan digital anak. Pendekatan tersebut penting karena teknologi sudah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Tujuannya bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari internet, melainkan membantu mereka menggunakannya secara lebih aman, sehat, dan sesuai kebutuhan.
Baca Juga : Iran Gempur Pangkalan AS di Yordania, Rahasia Kekuatan Rudalnya Mulai Terungkap
Gim Online Menjadi Bagian dari Tantangan yang Dihadapi
Komdigi juga menyoroti penggunaan gim online dalam pembahasan mengenai kebiasaan digital anak. Menurut Alfreno, tidak semua gim dibuat dengan tujuan pendidikan. Sebagian besar hadir sebagai hiburan, sehingga pola penggunaannya tetap perlu diperhatikan. Namun, bermain gim tidak otomatis berarti seorang anak mengalami kecanduan. Orang tua perlu melihat durasi, konteks, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Misalnya, masalah dapat muncul ketika aktivitas digital mulai mengganggu waktu tidur, belajar, hubungan keluarga, atau kegiatan sosial. Karena itu, fokus sebaiknya tidak hanya pada jumlah jam di depan layar. Kualitas aktivitas digital juga penting untuk diperhatikan. Gim tertentu bahkan dapat melatih strategi, kreativitas, atau kerja sama. Meski begitu, batas yang jelas tetap diperlukan. Dengan pendampingan yang konsisten, anak dapat menikmati hiburan digital tanpa membiarkannya mengambil alih sebagian besar rutinitas harian.
Perubahan Perilaku Bisa Menjadi Sinyal bagi Orang Tua
Orang tua memiliki posisi penting karena mereka melihat kebiasaan anak setiap hari. Komdigi meminta keluarga memperhatikan perubahan perilaku dan emosi yang muncul bersamaan dengan penggunaan perangkat digital secara berlebihan. Alfreno mencontohkan perubahan temperamen, rasa canggung dalam berinteraksi, atau kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Meski demikian, satu perubahan perilaku tidak otomatis membuktikan adanya kecanduan digital. Banyak faktor lain dapat memengaruhi kondisi emosi seorang anak. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru memberikan label. Sebaliknya, komunikasi dapat dimulai dengan menanyakan apa yang dilakukan anak di internet dan mengapa aktivitas tersebut begitu menarik baginya. Selain itu, keluarga dapat mengamati pola tidur, rutinitas sekolah, aktivitas fisik, serta hubungan sosial. Pendekatan yang tenang membantu orang tua memahami masalah dengan lebih baik sebelum menentukan langkah berikutnya.
Baca Juga: Trump Semakin Dekat Putuskan Serangan Besar ke Iran, Timur Tengah Kembali Dibayangi Ancaman Konflik
DARA Disediakan untuk Membantu Menghadapi Masalah Adiksi Digital
Bagi keluarga yang melihat indikasi masalah lebih serius, Komdigi memperkenalkan layanan Digital Addiction Response Assistance atau DARA. Menurut keterangan Alfreno, layanan tersebut menyediakan konseling dan asesmen gratis bagi anak yang menunjukkan indikasi adiksi terhadap ruang digital. Kehadiran layanan seperti DARA penting karena sebagian orang tua mungkin kesulitan menentukan apakah kebiasaan anak masih wajar atau sudah mengganggu kehidupan sehari-hari. Selain itu, keluarga tidak selalu memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghadapi perubahan perilaku terkait penggunaan perangkat. Dukungan profesional dapat membantu memberikan penilaian yang lebih terarah. Namun, orang tua tetap memiliki peran utama dalam membentuk rutinitas di rumah. Mereka dapat menetapkan waktu tanpa perangkat, mengajak anak melakukan aktivitas bersama, serta menjadi contoh dalam penggunaan ponsel. Dengan begitu, upaya menjaga kesehatan digital tidak hanya muncul ketika masalah sudah membesar.
Batas Waktu Layar Perlu Disertai Kebiasaan yang Seimbang
Mengurangi screen time tidak selalu efektif jika keluarga hanya mengambil ponsel tanpa menyediakan kegiatan pengganti. Anak membutuhkan aktivitas yang tetap menarik ketika berada jauh dari layar. Karena itu, orang tua dapat membangun rutinitas yang mencakup olahraga, membaca, bermain di luar, membantu pekerjaan rumah, atau berbicara bersama keluarga. Selain itu, waktu makan dan menjelang tidur dapat dijadikan periode tanpa perangkat. Kebiasaan sederhana tersebut membantu menciptakan batas yang mudah dipahami. Namun, aturan sebaiknya diterapkan secara konsisten kepada anggota keluarga lain. Anak akan sulit menerima pembatasan ketika orang dewasa terus menggunakan ponsel di setiap kesempatan. Dengan demikian, keteladanan memiliki peran yang sama penting dengan aturan. Fokusnya bukan membuat teknologi terlihat sebagai musuh. Sebaliknya, keluarga dapat mengajarkan bahwa perangkat digital adalah alat yang perlu digunakan pada waktu dan tujuan yang tepat.
Literasi Digital Menjadi Bekal Penting bagi Generasi Muda
Tingginya penggunaan ponsel menunjukkan bahwa anak Indonesia tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Internet membuka akses terhadap pengetahuan, kreativitas, hiburan, dan komunikasi dalam skala besar. Namun, akses tersebut juga membutuhkan kemampuan untuk mengenali risiko. Karena itu, literasi digital perlu berkembang bersama kemampuan menggunakan teknologi. Anak perlu memahami privasi, keamanan akun, konten yang sesuai usia, serta pentingnya mengatur waktu. Sementara itu, orang tua membutuhkan pengetahuan agar dapat mendampingi tanpa sekadar mengawasi. Pemerintah dan platform digital juga mempunyai peran dalam menciptakan perlindungan yang efektif. Pada akhirnya, tantangan 5–7 jam penggunaan ponsel sehari tidak dapat diselesaikan dengan satu aturan sederhana. Pendekatan yang lebih kuat menggabungkan edukasi, pendampingan keluarga, kebijakan perlindungan, dan kebiasaan digital yang sehat sejak usia muda.