Commons Sight – Robot China Moya mendadak jadi bahan obrolan setelah startup robotika asal China, DroidUp, memamerkannya di Shanghai. Yang membuat publik kaget bukan hanya karena Moya bisa berjalan, tetapi karena wajahnya terlihat cantik dan sangat mirip manusia sungguhan. Bahkan, dalam video yang beredar, Moya tampil dengan rambut panjang, makeup, dan ekspresi yang terasa “hidup”. Di titik ini, banyak orang merasa takjub sekaligus sedikit tidak nyaman. Pasalnya, robot humanoid biasanya terlihat kaku, mekanis, dan mudah dikenali. Namun, Moya terasa seperti melewati batas itu. Menurut saya, inilah momen ketika teknologi robotika mulai masuk ke wilayah yang lebih emosional, karena manusia tidak hanya menilai fungsi, tetapi juga merasakan kedekatan visual.
DroidUp Mengklaim Moya sebagai Robot Biomimetik Pertama di Dunia
Robot China Moya disebut sebagai robot cerdas biomimetik pertama di dunia, karena fokus utamanya adalah meniru cara manusia bergerak dan berinteraksi. DroidUp tidak mengejar kecepatan ekstrem atau kekuatan besar seperti robot industri. Sebaliknya, mereka menargetkan stabilitas gerak dan interaksi yang terasa natural. Karena itu, Moya diposisikan sebagai robot yang “ramah manusia”, bukan sekadar mesin yang bekerja di pabrik. Selain itu, konsep biomimetik membuatnya terasa seperti produk masa depan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Jika robot humanoid sebelumnya sering terlihat seperti eksperimen, Moya justru tampil seperti prototype yang siap masuk ke ruang publik. Dengan kata lain, DroidUp ingin membuat robot yang bisa diterima secara sosial, bukan hanya secara teknis.
“Baca Juga : Poco F8 Pro dan F8 Ultra Resmi Diluncurkan di Indonesia, Ini Harga dan Fitur Unggulannya“
Konsep Embodied AI Membuat Moya Tidak Sekadar “Pintar di Otak”
Robot China Moya dibangun dengan pendekatan embodied artificial intelligence (AI). Artinya, kecerdasan buatan pada Moya tidak hanya memproses informasi secara digital seperti chatbot. Sebaliknya, AI tersebut juga memahami lingkungan, mengambil keputusan, lalu bertindak langsung di dunia nyata. Ini membuat Moya masuk kategori robot yang lebih kompleks dibanding perangkat pintar biasa. Selain itu, embodied AI menjadi salah satu tren paling penting dalam robotika modern. Sebab, robot harus bisa menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah, terutama jika ditempatkan di lingkungan manusia. Menurut saya, pendekatan ini menunjukkan bahwa masa depan AI tidak hanya berada di layar, tetapi akan hadir dalam bentuk fisik yang bergerak di sekitar kita.
Ekspresi Mikro Jadi Kekuatan Utama: Kedipan, Senyum, dan Kontak Mata
Robot China Moya terlihat unggul karena mampu menampilkan ekspresi mikro seperti berkedip, melirik, mengangguk, hingga melakukan kontak mata. Ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat sulit dilakukan robot humanoid dengan luwes. Karena itu, banyak orang langsung menganggap Moya lebih “hidup” dibanding robot lain. Namun, gerakannya tetap terlihat sedikit kaku, terutama saat berjalan dengan lenggok seperti manusia. Meski begitu, detail seperti kedipan sebelah mata dan senyum halus membuatnya terasa lebih natural. DroidUp bahkan mengklaim akurasi gerak dan ekspresi Moya mencapai 92 persen. Angka ini memang terdengar tinggi, tetapi yang paling penting adalah impresi visualnya. Publik tidak selalu menilai dengan angka, melainkan dengan rasa.
“Baca Juga : EliteBoard G1a, PC Canggih dari HP dalam Wujud Keyboard“
Desain Tubuh Moya Dibuat Mendekati Proporsi Manusia Dewasa
Robot China Moya didesain dengan tinggi sekitar 1,65 meter dan bobot sekitar 32 kilogram, sehingga proporsinya mirip orang dewasa. Selain itu, material silikon yang membalut tubuhnya memberi kesan lebih realistis. Ini membuat Moya tidak terlihat seperti robot logam yang kaku. Namun, pendekatan realistis ini juga memunculkan pertanyaan besar. Ketika robot makin mirip manusia, batas antara “alat” dan “makhluk” menjadi kabur. Menurut saya, di sinilah tantangan sosial muncul. Sebab, manusia cenderung memberi respons emosional pada wajah dan gestur, bahkan ketika itu hanya mesin. Jadi, desain Moya bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal bagaimana manusia akan bereaksi ketika robot seperti ini hadir di ruang publik.
DroidUp Membuat Moya Memiliki Suhu Tubuh Mirip Manusia
Robot China Moya diklaim mampu mempertahankan suhu tubuh antara 32 hingga 36 derajat Celsius. Tujuannya adalah agar Moya terasa lebih mirip manusia, terutama saat berinteraksi langsung dengan orang. Ini adalah detail yang menarik, karena banyak robot humanoid lain terasa “dingin” dan jauh dari pengalaman manusia. Selain itu, suhu tubuh juga memengaruhi persepsi psikologis. Ketika seseorang menyentuh sesuatu yang hangat, otak manusia cenderung mengasosiasikannya dengan kehidupan. Karena itu, fitur ini bisa menjadi bagian dari strategi untuk membuat Moya lebih mudah diterima. Walaupun terdengar seperti hal kecil, justru detail seperti inilah yang sering membuat teknologi terasa lebih nyata. Menurut saya, DroidUp memahami bahwa robot masa depan harus “nyaman” bagi manusia.
Moya Diproyeksikan untuk Kesehatan, Pendidikan, dan Sektor Komersial
Robot China Moya tidak dibuat untuk sekadar pamer teknologi. DroidUp berharap robot ini bisa digunakan di berbagai sektor seperti perawatan kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan komersial yang membutuhkan interaksi. Ini masuk akal, karena robot humanoid dengan ekspresi natural lebih cocok ditempatkan di ruang publik. Sebagai contoh, Moya bisa menjadi asisten di klinik, pendamping lansia, atau front desk di area layanan. Selain itu, sektor edukasi juga berpotensi besar, karena anak-anak biasanya lebih mudah tertarik pada robot yang terlihat ramah. Namun, tentu saja implementasinya tidak mudah. Robot seperti Moya harus aman, stabil, dan tidak memicu rasa takut. Dengan demikian, Moya bukan hanya tantangan teknologi, tetapi juga tantangan sosial.
Harga Moya Diperkirakan Rp 128 Juta, Menandakan Targetnya Bukan Pasar Massal
Robot China Moya diperkirakan akan dijual pada akhir 2026 dengan harga mulai dari 1,2 juta yen atau sekitar Rp 128 juta. Angka ini jelas bukan untuk pasar massal. Karena itu, kemungkinan besar pembeli awalnya adalah institusi, perusahaan, atau sektor profesional. Selain itu, harga ini juga memberi sinyal bahwa Moya masih berada di fase awal komersialisasi. Namun, jika melihat tren teknologi, harga perangkat baru biasanya turun seiring produksi massal. Jadi, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun, robot seperti Moya bisa lebih terjangkau. Menurut saya, inilah bagian yang paling menarik. Teknologi yang hari ini terasa “mewah”, sering kali menjadi produk biasa di masa depan. Dan ketika itu terjadi, masyarakat harus siap dengan perubahan besar.
Robot Humanoid seperti Moya Membuka Debat Etika dan Masa Depan Interaksi Manusia
Robot China Moya memicu pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar “keren atau tidak”. Ketika robot makin mirip manusia, muncul isu etika, privasi, dan psikologi. Misalnya, apakah manusia akan lebih mudah dimanipulasi oleh robot yang punya ekspresi lembut? Selain itu, bagaimana jika robot digunakan untuk membangun kepercayaan dalam konteks komersial? Di sisi lain, robot seperti ini juga bisa membantu banyak orang, terutama dalam sektor kesehatan dan layanan. Menurut saya, Moya adalah contoh nyata bahwa teknologi tidak netral. Ia selalu membawa dampak sosial. Karena itu, perkembangan robot humanoid harus dibarengi dengan aturan, transparansi, dan edukasi publik. Jika tidak, rasa takjub bisa berubah menjadi kecemasan.