Commons Sight – Nilai tukar mata uang Iran, rial, telah merosot tajam hingga mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah. Pada 15 Januari 2026, kurs rial mencapai sekitar 1.065.000 per dolar AS, melemah hingga 2.437 persen dibandingkan awal 2025 yang masih berada di level 42.000 rial per dolar. Kurs rial terhadap rupiah juga tercatat mengalami penurunan signifikan, dengan nilai Rp 20.000 kini setara lebih dari 1,26 juta rial. Anjloknya nilai tukar ini menandakan fase krisis baru yang semakin memperburuk kondisi ekonomi negara tersebut.
Pelemahan tajam ini bukan hanya mempengaruhi daya beli masyarakat, tetapi juga memperburuk ketidakstabilan sosial dan politik di Iran. Hal ini semakin memperjelas betapa dalamnya krisis yang sedang dihadapi oleh negara yang sebelumnya memiliki ekonomi yang relatif stabil.
Penyebab Pelemahan Rial: Sanksi dan Inflasi
Tiga faktor utama menyebabkan pelemahan tajam nilai tukar rial Iran: sanksi internasional yang terus diberlakukan, inflasi yang meroket, dan ketidakstabilan politik yang mendalam. Sejak Revolusi Iran pada 1979, rial telah mengalami penurunan yang sangat drastis. Pada saat itu, 1 dolar AS hanya setara 70 rial, namun pada 2026, nilai tukar telah melampaui 1,4 juta rial per dolar.
Sanksi internasional, yang semakin diperketat oleh PBB dan Uni Eropa sejak September 2025, menjadi faktor utama yang menyebabkan keruntuhan ini. Sanksi-sanksi ini terutama berfokus pada sektor minyak Iran, yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut. Iran kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak akibat sanksi, meskipun masih ada pengiriman melalui jalur tidak langsung dengan harga diskon besar.
“Baca Juga : Bank Mandiri Komitmen Dukung Pemulihan Ekonomi Melalui Perlakuan Khusus Kredit untuk Debitur Terdampak Bencana“
Dampak Sosial: Meningkatnya Kemiskinan dan Ketidakpuasan
Kondisi ekonomi yang memburuk berdampak langsung pada kehidupan sosial masyarakat Iran. Inflasi yang melebihi 42 persen telah mendorong lonjakan harga barang-barang pokok, seperti pangan dan perumahan. Akibatnya, daya beli masyarakat terus menurun, sementara lebih dari 10 juta warga Iran jatuh miskin, dengan 40 persen lainnya berada dalam risiko kemiskinan.
Peningkatan ketidakpuasan publik terhadap pemerintah semakin nyata. Gelombang demonstrasi di berbagai kota menunjukkan bahwa rakyat Iran tidak hanya resah dengan kondisi ekonomi, tetapi juga dengan kebijakan pemerintah yang dianggap gagal. Ketidakstabilan ekonomi ini semakin memperburuk ketegangan sosial dan politik di negara tersebut.
Peralihan Aset: Warga Beralih ke Dollar dan Emas
Di tengah krisis ini, banyak warga Iran yang mulai mengalihkan aset mereka ke dalam bentuk yang lebih stabil, seperti dolar AS, emas, dan properti. Peralihan ini semakin mempersempit likuiditas rial di pasar domestik, membuat nilai rial semakin tertekan. Warga yang sebelumnya bergantung pada mata uang lokal kini mencari cara untuk menjaga nilai kekayaan mereka, berusaha melindungi diri dari inflasi yang terus meroket.
Peralihan ini juga mencerminkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap kebijakan moneter pemerintah yang dianggap tidak mampu mengendalikan krisis. Dengan semakin menurunnya kepercayaan terhadap rial, pasar gelap semakin berkembang, memperburuk kondisi perekonomian Iran.
“Baca Juga : Superbank Resmi IPO, SUPA Melantai dengan Ambisi Besar Perbankan Digital Indonesia“
Sanksi Internasional: Memperburuk Krisis Ekonomi
Sanksi internasional terus memperburuk kondisi ekonomi Iran. Sejak 2025, PBB memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran, yang mencakup embargo senjata, pembekuan aset, dan larangan perjalanan. Sanksi ini semakin menyempitkan ruang gerak ekonomi negara yang bergantung pada ekspor minyak dan perdagangan internasional. Sebagai akibatnya, Iran kehilangan sebagian besar potensi pendapatan ekspor minyak yang seharusnya bisa mencapai lebih dari 28 miliar dolar AS pada tahun 2025.
Meski beberapa negara masih melakukan perdagangan dengan Iran melalui jalur tidak langsung, sanksi ini telah menghancurkan sebagian besar ekonomi negara tersebut, mengurangi kemampuan Iran untuk membiayai pembangunan dan stabilitas ekonomi.
Masa Depan Ekonomi Iran dan Potensi Pemulihan
Meskipun Iran menghadapi tantangan besar, ada beberapa harapan untuk pemulihan ekonomi, meskipun dalam jangka panjang. Negara ini harus mencari cara untuk mengatasi sanksi internasional dan mengurangi ketergantungannya pada sektor minyak. Kebijakan reformasi dalam sektor non-minyak, termasuk teknologi dan manufaktur, dapat menjadi kunci untuk masa depan ekonomi Iran yang lebih stabil.
Namun, pemulihan ini membutuhkan waktu dan upaya besar dari pemerintah dan masyarakat Iran. Dukungan internasional, serta perubahan dalam kebijakan domestik, akan sangat menentukan arah masa depan ekonomi Iran.
Perbandingan Nilai Tukar Rial Sebelum dan Sesudah 1979
Perbandingan nilai tukar rial Iran dari tahun 1979 hingga 2026 menunjukkan betapa besar perubahan yang telah terjadi. Sebelum Revolusi Iran, 1 dolar AS setara dengan sekitar 70 rial. Namun, setelah lebih dari empat dekade sanksi, inflasi, dan isolasi diplomatik, nilai tukar rial kini melampaui 1,4 juta rial per dolar. Ini menggambarkan dampak dari kebijakan internal yang buruk dan pengaruh dari kebijakan luar negeri yang terus memperburuk perekonomian negara.
Perbandingan ini juga mencerminkan dampak besar yang dirasakan oleh warga Iran, yang hidup dengan mata uang yang semakin tidak bernilai. Meskipun upaya untuk memperbaiki situasi terus dilakukan, tantangan yang dihadapi Iran sangat besar.